,

Sadis, Dana Rutilahu di Kelurahan Bahagia Disunat ?

oleh

LENSA POTRET : Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang digulirkan oleh pemerintah, adalah untuk membantu memperbaiki rumah warga khususnya rumah tangga miskin (RTM) yang tidak layak huni menjadi lebih layak untuk ditempati.

Keinginan pemerintah yang begitu mulia dan patut diapresiasi, ternyata malah sering disalahgunakan dan dijadikan lahan untuk mencari keuntungan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, tidak bermoral dan tidak berhati nurani, dengan mengorbankan masyarakat miskin untuk memperkaya diri sendiri.

ST (66) warga Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi yang mendapatkan bantuan dana Rutilahu merasa kecewa.

Pasalnya, bantuan dana tersebut yang seharusnya ia terima sebesar Rp 15 juta, namun diduga dana tersebut disunat oleh Pelaksana Kegiatan (PK) kurang lebih sebesar Rp 3 juta.

“Saya datang ke Bank BJB dikasih duit Rp 15 juta, trus diminta Rp 12 juta (oleh PK), katanya buat dibelanjakan langsung ke Material (toko bangunan), jadi saya cuma terima Rp 3 juta buat bayar tukang doang,” jelas ST, Sabtu (20/1/2018).

Menurut ST, dana Rp 12 juta yang digunakan untuk kebutuhan belanja material faktanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Diduga ada permainan harga dengan toko material/bangunan yang menjadi pemasok bahan material untuk program Rutilahu.

“Batu hebel kan 1 kubik-nya Rp 650 ribu, itu dikenain Rp 700 ribu, ditambah bon pembelanjaan-nya saya gak dikasih, dari situ aja kan udah ada kejanggalan. Jadi kita kayak mau dikibulin (bohongin), potongannya terlalu gede (besar). Sebelumnya juga ini ada isu-isu buat potongan,” keluhnya.

Berdasarkan hasil catatan yang ia buat, secara global, anggaran Rp 12 juta yang seharusnya full dibelanjakan oleh Pelaksana Kegiatan tersebut nyatanya diduga dibelanjakan hanya mencapai Rp 8.652.500.

Sementara pemilik toko bangunan, H.Encep ketika dikonfirmasi lensapotret.com mengatakan ada 7 orang penerima dana Rutilahu yang dititipkan anggarannya, untuk satu orangnya, dana yang ia terima dari Pelaksana Kegiatan Rutilahu nyatanya hanya senilai Rp 10 juta.

“Katanya kan yang dapat (bantuan Rutilahu) ada 25 (orang), nah disana (material lainnya) 9, disana 9, disini (di materialnya) 7,” ujarnya.

Mengenai keluhan ST, kata Encep, untuk pengambilan barang materialnya sudah distop dikarenakan saldo atas nama ST sudah habis.

“Kalau saya bilang habis (saldonya) ya habis lah, tanya sama dia aja (penerima bantuan Rutilahu) saya kan cuma jualan material,” cetusnya.

Ketua Pelaksana Kegiatan (PK) Rutilahu, Nurdin ketika dikonfirmasi soal adanya dugaan pemotongan dana tersebut dirinya menyangkal.

“Pengerjaannya kan belum selesai bang, jadi masih tahap pembangunan. Uang yang dititipkan di material itu Rp 12 juta bang, itu pun penerimanya langsung yang memberikan ke material, saya mah cuma mendampingi aja,” kelitnya. (Panji/Fuji)

Komen yang sopan ya..!!!