Mantan Karyawan Telkom Nilai Alex Tak Becus Urus Perusahaan

oleh

JAKARTA – Munculnya berbagai masalah yang menerpa perusahaan Telekomunikasi terbesar, PT Telkom Indonesia akhir-akhir ini, membuat berbagai kalangan

memberi penilaian negatif kepada Dirut Telkom Alex Sinaga.

Diantara banyak pandangan, kini muncul pernyataan seorang mantan karyawan Telkom yang menilai AJS secara terbuka. Melalui pesan yang dikirimkan lewat email ke redaksi, sang mantan karyawan mengeluarkan isi hatinya. Berikut pesan yang disampaikan.

Saat ini, mungkin sudah tidak banyak sejawat saya yang dulunya ikut mengalami perubahan Perusahaan Umum Telekomunikasi, atau yang terkenal dengan istilah Perumtel menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) pada tahun 1991. Lalu pada tahun 1995, penawaran umum saham TELKOM (initial public offering) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. Sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan

(public offering without listing) di Tokyo Stock Exchange. Sebuah kebanggaan bagi insan TELKOM, khususnya saya pribadi.

Walaupun sekarang saya sudah tidak berkantor di TELKOM, namun saya masih datang ke TELKOM untuk mendapatkan fasilitas kesehatan. Betapa takjubnya saya melihat megah dan mewahnya gedung baru Telkom Landmark Tower. Bangga? Sudah pasti, karena saya termasuk insan TELKOM yang masih sangat mencintai perusahaan yang telah mengubah hidup saya dan keluarga. Namun, ada hal yang masih menjadi tanda tanya besar, bagaimana kinerja TELKOM dibawah kepemimpinan Alex Sinaga?

Alex Sinaga bukan orang baru di lingkungan saya, beliau adalah junior saya, namun karena beliau adalah pemimpin tertinggi di TELKOM saat ini, saya tetap harus menghormati beliau dengan menyebutnya Bapak Alex Sinaga, tapi bukan berarti saya tidak bisa mengkritik beliau, karena saya tahu persis siapa Bapak Alex Sinaga, dan bagaimana cara beliau memimpin sebuah unit, divisi, atau korporasi. Selalu ada masalah yang muncul, dimanapun beliau memimpin,walaupun sebenarnya masalah tersebut bisa jadi dihindari seandainya beliau memiliki prioritas yang jelas dalam menjalankan sebuah unit, divisi, atau korporasi.

Pertama, kita lihat bagaimana beliau memimpin salah satu anak usaha TELKOM, PT. Multimedia Nusantara, satu anak usaha TELKOM, PT. Multimedia Nusantara, yang dikenal dengan METRA. Prestasi apa yang

berhasil dibukukan oleh Bapak Alex Sinaga dalam menjalankan METRA? Muncul masalah keterlibatan METRA dalam program Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) yang dicanangkan oleh Kementerian Kominfo, dan telah dimenangkan oleh TELKOM. Pembagian peran METRA tidak jelas dalam melaksanakan program MPLIK, dan juga bukan merupakan core business METRA. Menjadi hal yang wajar jika seandainya muncul penolakan besar dari sejawat kami di Serikat Karyawan TELKOM (SEKAR) dan Serikat Karyawan TELKOMSEL (SEPAKAT) pada saat Bapak Alex Sinaga ditunjuk menjadi Dirut TELKOMSEL, mau dibawa kemana TELKOMSEL oleh Bapak Alex Sinaga?

Kedua, Bapak Alex Sinaga melakukan kesalahan fatal dan membuat TELKOMSEL pailit. Pada bulan September tahun 2012, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah menjatuhkan vonis pailit kepada TELKOMSEL. Kenapa korporasi sebesar TELKOMSEL yang katanya memiliki keuangan yang bagus dan laba bersih yang besar bisa pailit? Ternyata hanya karena hutang sebesar Rp. 5,3 miliar yang tidak dibayar TELKOMSEL, namun dianggap sepele secara administrasi. Kerjasama dengan pihak ketiga karena dianggap wanprestasi, namun pihak ketiga tetap menagih pembayaran yang telah dijanjikan TELKOMSEL sesuai kontrak yang telah disepakati bersama sebelumnya. Pemutusan kontrak secara sepihak yang dilakukan TELKOMSEL tentunya melalui proses persetujuan manajemen tertinggi TELKOMSEL dibawah kendali Bapak

Alex Sinaga, namun Bapak Alex Sinaga mungkin tidak memperhitungkan kekecewaan pihak ketiga, yang akhirnya berani menggugat TELKOMSEL di Pengadilan Niaga. Sangat disayangkan perusahaan sebesar TELKOMSEL

Sangat disayangkan perusahaan sebesar TELKOMSEL dipimpin dengan cara seperti itu, dan pengambilan keputusan yang gegabah.

Ketiga, seperti tidak belajar dari kesalahan terdahulu di TELKOMSEL, TELKOM yang dipimpin oleh Bapak Alex Sinaga sedang menghadapi berbagai tuduhan terkait kewajiban yang belum selesai kepada Citra Sari Makmur (CSM), yang juga anak usahanya sendiri. CSM memberanikan diri melayangkan gugatan senilai Rp.16 triliun kepada Bapaknya, TELKOM. Lagi-lagi, gugatan muncul terkait pemutusan hubungan kerjasama pemanfaatan jaringan tetap dan sarana penunjang (transponder). CSM menilai pemutusan hubungan kerjasama tersebut sewenang-wenang dan sepihak, mengingat kerjasama CSM dengan Telkom telah berlangsung selama 27 tahun. Di saat masalah belum selesai, manajemen Telkom seperti marah besar dan kebakaran jenggot dengan adanya gugatan diatas, lalu melepas CSM sebagai anak usahanya, dengan alasan perpajakan. Padahal seharusnya, apabila CSM memiliki tunggakan pajak, maka TELKOM juga memiliki kewajiban di situ sebagai Bapaknya.

Bagaimana fungsi kontrol dan pengawasan yang dilakukan Bapak Alex Sinaga dalam mengelola perusahaan sebesar TELKOM

yang memiliki puluhan anak usaha? Tidak mampukah beliau mengelola perusahaan yang besar? Karena ketidakmampuan beliau mengelola perusahaan sebesar TELKOM, saham TELKOM yang disingkat TLKM beberapa kali tertekan, termasuk pada saat hilangnya Satelit TELKOM-1 yang seharusnya hanya berusia 15 tahun dan beroperasi hingga 2014, masih tetap digunakan hingga 2017 yang lalu, karena satelit pengganti belum kunjung usai pembuatannya di pabrikan luar negeri. Dari beberapa sumber disimpulkan bahwa para analis menilai penurunan harga saham TLKM dipastikan karena performance dan kinerja Bapak Alex Sinaga yang di bawah ekspektasi dalam mengelola TELKOM.

Di saat manajemen TELKOM dibawah komando Bapak Alex Sinaga melakukan kesalahan-kesalahan fatal, SEKAR yang seharusnya menjadi oposisi malah terlihat SEKAR yang seharusnya menjadi oposisi malah terlihat tidur. Terkesan SEKAR tidak memberikan masukan maupun kritikan terhadap pengelolaan perusahaan. SEKAR tidak seperti dulu yang berani bersikap kepada manajemen jika manajemen salah dalam bertindak, karena SEKAR sudah dirangkul dengan mempromosikan para petinggi SEKAR dalam jabatan struktural.

Dibalik semua permasalahan yang terjadi, sebagai insan TELKOM yang masih ingin lagu JAYALAH TELKOM INDONESIA berkumandang dari Sabang sampai Merauke bahkan hingga keluar negeri, saya pribadi berharap para pemegang kekuasaan di Negeri ini yang berwenang terhadap TELKOM, khususnya Presiden RI melalui Menteri BUMN, melakukan perombakan terhadap manajemen TELKOM, agar TELKOM dapat dikelola dengan sangat baik dengan mengedepankan good corporate governance.

Salam,

TELKOM INDONESIA

WUJUD KARYA NYATA, KEBANGGAAN BANGSA TELKOM INDONESIA

SELALU TETAP JAYA,

UNTUK SELAMANYA

Komen yang sopan ya..!!!