Satgas TMMD Berburu Celeng Massal di Gunung Jaran

oleh -533 views

BANJARNEGARA – Hama celeng di Desa Beji Kecamatan Pejawaran, kecamatan tetangga Pandanarum saat ini masih menjadi ancaman serius bagi para petani. Tak heran, mereka memiliki tradisi unik dalam mengatasi celeng atau babi hutan.

Serangan bagi hutan atau yang dikenal dengan nama celeng, telah merusak puluhan hektar tanaman jagung dan ketela pohon milik masyarakat di wilayah kecamatan Pandanarum dan sekitarnya. Akibat dari serangan hama babi hutan ini mengakibatkan petani mengalami kerugian yang cukup besar dan terancam gagal panen. Aktivitas penanaman baru juga tidak dapat lagi dilakukan karena adanya ancaman hama babi ini. Selain itu babi hutan ini juga mengakibatkan rusaknya tanaman Kapulaga, karena mereka biasa mencari cacing yang ada di bawah tanaman.

Untuk itulah, ratusan orang kembali memadati Desa Beji Kecamatan Pandanarum Kabupaten. Mereka terdiri dari warga setempat, para pemburu babi hutan tradisional dari wilayah Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum dan Desa Karanganyar Kecamatan Kalibening, para pemburu lokal desa-desa tetangga maupun para pemburu yang datang dari Banjarnegara. Sabtu (14/7/2018).

Setiap 6 bulan sekali biasanya dilakukan pemburuan hama babi hutan ini. Dikatakan Arifin (36) Sekdes Beji, “Kegiatan yang kami lakukan setiap 6 bulan sekali ini menggunakan anggaran desa, para pemburu dengan waktu perburuan selama 6 bulan. Setiap pemburu akan mendapatkan bayaran jika dapat menunjukkan ekor dari babi hutan,” ungkapnya.

Warga Beji ini tidak sendiri, ancaman babi hutan juga menyerang hampir di semua lahan pertanian di sekitar Gunung Jaran ini, seperti diwilayah Desa Plorengan, Karanganyar, Sidakangen, Sirukun dan Bedana. Hal inilah yang menyatukan mereka dengan para warga dari desa maupun kecamatan tetangga untuk membantu upaya perburuan secara serentak.

Kegiatan berburu yang mengambil tema “Babi Hutan Dibasmi Ketahanan Pangan Bersemi” juga dilaksanakan di desa tetangganya, yang saat ini sedang melaksanakan TMMD Reguler ke-102 Banjarnegara dengan melibatkan juga Sargas TMMD didalamnya.

Hasil tangkapan tidak dikonsumsi warga, mutlak punya pemburu. Menurutnya, yang terpenting bagi warga adalah lahan pertanian mereka aman dari serangan hama. Pemburu biasanya akan menjual daging celeng ini, ke Kebun Binatang TRMS Serulingmas Banjarnegara untuk dijadikan pakan harimau, biasanya dihargai 6000 rupiah/kg nya, ini juga sebagai tambahan hasil pemburu maupun untuk kas paguyuban pemburu.

Perburuan hama babi hutan serentak dimulai begitu Kades Beji Kecamatan Pejawaran, Sarman mulai meneriakkan aba-aba tanda perburuan massal dimulai, dan para pemburu beserta warga mulai bergerak menuju hutan untuk mencari buruannya. Tak terkecuali tua maupun muda serta Satgas TMMD yang hobi berburu malam juga ikut dalam rombongan.

Ratusan warga yang kesehariannya sebagai petani, melengkapi dirinya dengan alat buru seadanya yang berupa tombak dari kayu diruncingkan, parang, golok dan gobed. Para pemburu tradisional yang bersenjatakan tombak juga menggunakan puluhan anjing pemburu. Jika dapat hasil buruan jeroan babi untuk santap anjing-anjing mereka, ini untuk membiasakan anjing dalam mencium keberadaan babi hutan. Selain itu para pemburu ada juga yang bersenjatakan senapan angin.

Event seperti ini biasanya juga menjadi maghnet tersendiri bagi Perbakin dalam penyaluran hobi, selain membantu warga tentunya. Serangan babi mengganas ini, juga karena musim kemarau yang panjang saat ini. Akibatnya tanaman umbi-umbian yang menjadi makanan utama babi di hutan menipis, sehingga mendorong aktivitas babi hutan masuk ke lahan pertanian bahkan ke lingkugnan perumahan warga.

Untuk sementara ini, langkah penanggulangan yang cukup efektif adalah dengan cara mengurangi populasi babi hutan tersebut dengan cara perburuan massal meski secara tradisional.

“Keberhasilan dari perburuan ini, adalah koordinasi dengan desa-desa di wilayah seputaran gunung jaran. Karena hama babi hutan ini ketika diserang di sisi gunung, mereka akan bergerak kesisi lainnya. Jadi dengan koordinasi yang bagus, perburuan ini akan semakin efektif,” jelas Ketua Pelaksana, Roso (63) warga Desa Beji RT01 RW03.

Ditambahkannya juga, bahwa warga akan sangat bersyukur bila ada pihak-pihak lain yang mau membantu secara sukarela menanggulangi masalah babi hutan itu. Harapannya dengan bantuan tersebut, perburuan babi ini berjalan lebih efektif sehingga masyarakat lebih cepat dan tenang lagi dalam bertani.

Perburuan di malam hari sulit dilakukan karena ketiadaan alat seperti lampu penerangan. Karena itu, perburuan akan dilanjutkan lagi esok harinya dan akan terus dilaksanakan sampai dirasa cukup. Kalau babi hutan ini terus mengancam, masyarakat tidak dapat lagi menanam tanaman pangan, efeknya adalah harga pangan terutama ketela dan jagung akan naik karena banyak warga akan memanfaatkan lahan kosongnya untuk menanam albasia.

Turut hadir dalam acara tersebut, Danramil 06/Kalibening Kodim 0704 Banjarnegar, Kapten Inf. Asep Zaenal beserta jajaran Muspika Pandanarum maupun Muspika Pejawaran. (Red)

Komen yang sopan ya..!!!