Keluarga Korban Pengeroyokan di Desa Kedungpengawas Tempuh Jalur Hukum

oleh -929 views
Habibi Warga Kampung Poncol RT.05/RW.05 Desa Babelan Kota.

LENSA POTRET : Keluarga korban pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Habibi dan Nasrudin bakal memperkarakan insiden itu kepada pihak Kepolisian.

Pasalnya, Habibi (25) dan Nasrudin (25) menderita luka-luka parah akibat aksi beringas warga secara beramai-ramai.

Habibi yang paling parah, dia mengalami luka berat di bagian kepala dan badan, selain karena pukulan dan tendangan, karena sabetan senjata tajam. Diduga kuat itu berasal dari warga.

HABIBI

Berdasarkan informasi yang diterima, Habibi harus dirawat intensif di RS Sukanto Kramat Djati dan harus menjalani operasi pada area kepala.

Area tulang wajahnya hancur, bagian atas dan belakang kepala robek akibat senjata tajam, tulang pundak dekat leher patah, dan juga luka lainnya.

HABIBI

Sementara Habibi dan Nasrudin yang mengalami luka robek di bagian kepala justru ditetapkan sebagai pelaku atas laporan Nimun, pemilik warung tempat terjadi pengeroyokan pada Rabu, 17 November 2021 malam itu.

Saksi mata yang selamat dari amukan warga Kedungpengawas malam itu, Wahyudi (17), mengatakan dia bersama dengan Fadli (15), Habibi, dan Nasrudin sedang berada di kediamannya untuk minum alkohol di Kampung Poncol, RT 005 RW 05, Desa Babelan Kota.

Usai dari sana, mereka pergi ke Perumahan Panjibuwono melewati Jalan Raya Kampung Baru, RT 017, RW 06, Desa Kedungpengawas. Mereka berempat naik motor Honda BeAT dengan tujuan untuk sekedar jalan-jalan.

Di perjalanan, mereka melihat anak muda lain sedang nongkrong di warung milik Nimun. Habibi yang berada di bawah pengaruh minuman keras berhenti di depan warung itu dan menantang anak muda itu untuk berkelahi.

“Bang berantem ayo Bang,” ucap Wahyudi menirukan perkataan Habibi saat itu.

Para pemuda di warung itu pun bangkit dari duduknya. Melihat hal itu, Nasrudin yang dibonceng paling belakang turun dan terjadi keributan.

Nasrudin dikeroyok, Habibi sebagai saudara langsung membantunya dan meminta Wahyudi dan Fadli pergi dari lokasi itu untuk menyelamatkan motor.

“Karena ada beberapa dari anak muda yang lari dan teriak, banyak warga kampung pada keluar rumah,” kata dia.

“Habibi sempat mau lari dari warga karena pada berdatangan dan sempat ingin naik motor,” sambung dia.

Karena melihat Nasrudin sudah jadi bulan-bulanan warga di sana, Habibi pun urung melarikan diri dan berbalik membantu Nasrudin.

“Saya dan Fadli kabur karena takut kena amuk massa. Habis itu gak tahu lagi,” ucapnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi secara terpisah, Nimum (51), pemilik warung tempat terjadi keributan mengatakan dia melihat 2 anak muda turun dari motor dan menantang anak-anak muda yang berada di warungnya.

“Tujuannya apa saya gak tau, dia datang, turun yang di warung diancam. Mereka (anak-anak muda yang nongkrong) kabur,” ucap dia.

“Saya tanya ada apa? Dia bilang ‘Anjing lo’. Kayanya udah kena alkohol ini, kayanya berani bener. Sampe orang yang ngisi bensin digedik sama dia,” sambung dia.

Nimun pun heran dengan anak muda yang menenteng senjata tajam jenis celurit dan tiba-tiba marah di warungnya.

“Namanya saya belain ada anak saya di warung, saya suruh pulang daripada massa banyak, bahaya. Dua kali ngantem saya (pakai celurit),” ucap dia.

“Saya bingung kena kepala jadi hidung yang berdarah, terus batuk keluar darah juga, terus pusing,” katanya.

Nimun sempat menyuruh kedua pemuda itu untuk pulang agar tak terjadi hal yang diinginkan, dia juga menjaga agar anaknya yang menjaga warung senantiasa aman.

Tak lama, Nimun pun pingsan dan dibawa ke klinik terdekat untuk mendapat perawatan. Setelah itu dia tak mengetahui lagi apa yang terjadi.

“Itu bukan anak muda lagi, udah dewasa lah. Ada 26-an,” katanya.

Atas kejadian tersebut, polisi diminta untuk mengusut para pelaku pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Habibi dan Nasrudin.

Karena dari warga Kampung Baru Desa Kedungpengawas pun menggunakan senjata tajam waktu melakukan pengeroyokan itu, sehingga mengakibatkan Habibi mengalami luka yang cukup serius dan kondisinya saat ini masih Kritis di RS Kramat Djati.

“Meskipun awalnya adik saya yang salah, tapi di sini kan posisinya adik saya juga korban penganiayaan. Saya minta keadilannya,” kata Kakak Habibi, Bonan.

NASRUDIN

Begitu juga yang dialami oleh Nasrudin, yang kondisinya juga babak belur namun posisinya saat ini masih diamankan oleh Polsek Babelan,” sambung dia. (Red)

Komen yang sopan ya..!!!