CSR dari PT BBWM Jadi Polemik, Ini Penyebabnya

oleh -10.374 views
Tempat Dimana Lokasi yang Menjadi Titik Penyerahan Seperangkat Alat Steam Motor Pada 18 November 2021, Lahan itu Pula yang Awalnya Akan Menjadi Tempat Usaha Steam Motor. Sekarang Kondisinya Sudah Kosong & Sudah Tidak Ada Lagi Alat-alat Steam Tersebut. Yang Terlihat Hanyalah Motor yang Terparkir di Lahan tersebut.

LENSA POTRET : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaringan Organisasi Keadilan Rakyat (JOKER) menyoroti perkara CSR PT Bina Bangun Wibawa Mukti (BBWM) yang tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Hal itu lantaran CSR berupa bantuan seperangkat alat steam motor diduga diperdagangkan orang yang tidak bertanggung jawab sehingga kini sudah berpindah tangan.

Peran So dan Sa, orang kepercayaan PT BBWM sebagai mitra CSR di Desa Kedungpengawas, diduga berperan atas transaksi ini.

Berdasarkan informasi warga setempat yang enggan disebutkan namanya, dia membenarkan tempat dimana lokasi yang menjadi titik penyerahan seperangkat alat steam motor secara simbolis pada 18 November 2021.

Di lokasi tersebut, pada saat penyerahan terpampang spanduk bertuliskan ‘PPKP’ Steam Motor. PPKP merupakan kependekan dari Persatuan Pemuda Kedung Pengawas.

Di spanduk itu juga tertulis ‘Spesialisasi cuci kendaraan andal.

“Semenjak alat-alat itu diterima oleh mereka (PPKP) gak pernah dijadikan tempat usaha steam motor. Habis alatnya turun di situ, langsung dititipin. Gak pernah dipakai,” jelas dia, Senin, 3 Januari 2022.

Alat itu kemudian diangkut oleh pengurus Karang Taruna dengan losbak ke kediamannya. Diduga, pengurus Karang Taruna setempat sudah membayar sebesar Rp3 juta untuk pembelian seperangkat alat steam motor itu.

Alat steam motor itu, berdasarkan informasi LSM JOKER dari sumber yang terpercaya, berada di kediaman pengurus Karang Taruna, belum dipakai karena masih mencari lahan.

Sekretaris Joker, Herry ZK, menyoroti indikasi transaksi atas CSR PT BBWM berupa alat steam motor tersebut.

Dia menegaskan bahwa CSR PT BBWM yang semula untuk PPKP telah berpindah tangan kepada Karang Taruna.

Pada transaksi itu juga diduga ada kesepakatan, bahwa orang yang membayar alat steam CSR PT BBWM itu harus tetap menggunakan label PPKP saat membuka usahanya di lahan yang berbeda.

Karena, CSR PT BBWM itu turun untuk PPKP dalam rangka pemulihan ekonomi, semestinya alat itu berada di tangan PPKP sesuai amanah.

“Dalih mereka itu kan lahan tidak cocok untuk usaha, jalan rusak, musim hujan selalu digenangi banjir, dan tidak cocok untuk usaha steam. Mau pakai dalih apapun mereka itu sudah jelas ada indikasi sesuatu,” jelas dia kepada media Lensa Potret, Selasa, 4 Januari 2022.

Akan tetapi, Herry bersama timnya melihat lokasi tersebut dekat dengan Perumahan Pondok AFI 2, berada di jalan utama, dan tidak ada usaha steam motor di lokasi sekitar itu.

“Menurut informasi yang saya terima dari warga, memang lokasi itu belum sama sekali digunakan oleh organisasi tersebut (PPKP) untuk usaha steam motor. Kalau belum usaha, kenapa bisa bilang pindah dengan alasan lahan tidak produktif? Dimulai saja belum,” tegas dia.

“Bantuan alat usaha tersebut kan diberikan untuk PPKP, yah harus dari orang-orang PPKP dong yang mengelola. Saya juga baru dengar di wilayah tersebut ada bentukan nama PPKP, yang menjadi Ketua PPKP-nya juga pengurus Karang Taruna. Kan ada Lembaga Karang Taruna, kenapa gak pakai Karang Taruna aja yang mengusulkan itu,” tambahnya.

Masyarakat Desa Kedung Pengawas, Aryana, menyayangkan insiden itu. Dia tak habis pikir CSR PT BBWM bisa diduga disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

“PT BBWM tidak boleh asal-asalan menurunkan CSR. Harus mengevaluasi mitra CSR-nya. Tidak boleh pilih sembarang orang. Kalau memang terbukti, oknum itu harus di-blacklist,” jelas dia.

Dia juga meminta PT BBWM turun langsung ke masyarakat tanpa melalui perantara yang belum tentu mewakili kelompok masyarakat yang membutuhkan.

“Harus selektif memilih mitra CSR lah. Jangan asal-asalan. CSR gak ada artinya kalau PT BBWM-nya tidak mengawasi dan sembarangan memberikan bantuan. CSR harus ada manfaat untuk warga, bukan jadi bahan bancakan,” demikian dia.(Red)

Komen yang sopan ya..!!!